Tanggal 10 Juni yang lalu, profil dari Pak Robert dimuat di harian Kompas! Buat yang tidak sempat membaca bisa liat artikelnya du bawah ini:
Robert Sunarto, Menggelitik hingga Lidah Tak Berkutik
Hari itu bukan akhir pekan. Akan tetapi, Rabu (9/6), sekitar 20 kursi di kios itu nyaris tak pernah kosong. Pembeli berdatangan silih berganti. Bahkan tiga remaja rela berdiri mengantre dengan sabar untuk mendapatkan kursi.
Suasana itu terlihat di kios Tahu Brintik, Cihampelas Walk, Bandung. Aslinya tulisan yang tercantum di papan kios itu adalah Tahu Brintiiik. Robert Sunarto (53) memulai usaha itu tahun 2007 dengan sebuah kios di Toko Buku Gramedia, Jalan Merdeka, Bandung.
Jumlah awal satu kios dengan dua pegawai kemudian berkembang amat pesat. Hanya dalam waktu sekitar tiga tahun kini usaha Tahu Brintik memiliki 28 kios yang menyerap sekitar 50 tenaga kerja. Kios-kios itu tersebar di Bandung, Cimahi, dan Cirebon.
“Brintik artinya keriting kecil-kecil. Jadi, saya ingin konsumen mendapatkan sensasi keriting dan kriuk-kriuk, renyah dalam mulut,” tuturnya.
Usaha itu bermula saat Robert mencicipi tahu di Surabaya, tiga tahun lalu. Namun, tahu itu dirasa kurang enak. “Lalu, saya perbaiki rasanya. Saus, bumbu, dan adonan juga diracik. Rasanya lebih enak. Jadi, awalnya hanya iseng mencoba tahu,” paparnya.
Tahu Brintik dijual dengan kisaran harga Rp 6.000-Rp 10.000 per porsi isi 10 potong. Setiap hari sekitar 1.000 porsi masing-masing dengan berat 7 ons terjual. Terdapat enam menu Tahu Brintik, yakni Stick Mayo, Stick Keju, Brintik, Bantal, Kribo, dan Stick Special Keju. Yang paling banyak dibeli konsumen adalah Tahu Stick Mayo seharga Rp 8.000 per porsi.
“Saya sebenarnya membidik segmen pelajar dan mahasiswa. Tapi, saya heran juga, ternyata orangtua pun banyak yang makan Tahu Brintik,” kata Robert. Mulanya sepi
Ia memaparkan, usaha Tahu Brintik bukannya selalu berjalan lancar. Awalnya tahu yang terjual hanya sekitar 20 porsi per hari. Kondisi yang cukup sepi itu berlangsung lebih kurang tujuh bulan pertama. Robert pun harus bersabar untuk terus meyakinkan konsumen.
“Saya tawarkan tahu untuk dicicipi. Promosi dilakukan dari mulut ke mulut saja. Akhirnya, Tahu Brintik dapat diterima konsumen,” katanya. Robert lalu menggunakan moto yang dirasa pas dalam menjual Tahu Brintik, yakni “Menggelitik hingga Lidah Tak Berkutik”.
Padatnya antrean di kios-kios Tahu Brintik pun membuat keluhan sejumlah pengunjung tak dapat dielakkan. Kadang pengunjung kehabisan tahu, menerima potongan yang kurang dari jumlah seharusnya, tidak dilayani, dan mendapatkan mayones encer.
“Lalu, sikap pegawai judes atau tidak jujur juga menjadi keluhan. Sekitar dua bulan lalu malah ada keluhan yang masuk internet,” kata Robert.
Semua kritik itu diterima demi kepuasan konsumen. Kini ia berniat meluaskan wilayah usahanya ke Kabupaten Tasikmalaya, Ciamis, dan Garut hingga akhir tahun 2010 dengan jumlah kios menjadi 40 buah. Tahun 2011 jumlah itu akan ditambah lagi menjadi 50 kios. (dwi bayu radius)
Sumber: kompas.com